Selasa, 12 Januari 2016

Musium Trinil Ngawi Jawa Timur

Musium Trinil Ngawi Jawa Timur. Trinil adalah situs paleoantropologi di Indonesia yang sedikit lebih kecil dari situs Sangiran. Tempat ini terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (kira-kira 13 km sebelum kota Ngawi dari arah kota Solo). Trinil merupakan kawasan di lembah Sungai Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Plistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu.

Pada tahun 1891 Eugène Dubois, yang adalah seorang ahli anatomi menemukan bekas manusia purba pertama di luar Eropa yaitu spesimen manusia Jawa. Pada 1893 Dubois menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus serta fosil hewan dan tumbuhan purba lain.


Saat ini Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektar, dimana koleksinya di antaranya fosil tengkorak Pithecantrophus erectus, fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba (Stegodon trigonocephalus), dan fosil tanduk banteng purba (Bibos palaeosondaicus). Situs ini dibangun atas prakarsa dari Prof. Teuku Jacob ahli antropologi dari Universitas Gadjah Mada.

Situs Museum Trinil dalam penelitian merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengah, kurang lebih 1,5 juta tahun yang lalu yang terdapat di kota Ngawi. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya.
Museum Trinil terletak di Jalan Raya Solo – Surabaya, Pedukuhan Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, kurang lebih 13 kilometer arah barat pusat kota Ngawi, dan untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan semua jenis kendaraan. Sayang sekali di jalan arteri yang bisa menjadi petunjuk utama, tidak ada satupun patokan yang bisa mengarahkan kita ke Museum tersebut.
Kalau bertanya sama seseorang hanya dijawab, “ Pokoknya belok ke gang yang ada gapura hitamnya,”. Akhirnya setelah bertanya selama dua kali, sampailah kami di lokasi museum.
Pintu gerbang museum yang sangat sederhana terlihat setelah masuk ke dalam 1 km dari jalan raya utama, kemudian kami melapor ke pos penjaga untuk membayar tiket masuk. Memang luar biasa murah kalau boleh dikatakan, bayangkan untuk melihat peradaban jutaan tahun yang lalu hanya dikenakan biaya masuk seribu rupiah per orang. Ketika masuk ke lokasi parkir, kesan pertama yang timbul adalah bahwa museum ini kurang optimal perawatannya, terutama dalam hal fasilitas dan kebersihan.

Masuk ke dalam museum kami mendapati ruangan yang dipenuhi dengan tulang-tulang manusia purba. Diantaranya adalah : fosil tengkorak manusia purba ( Phitecantropus Erectus Cranium Karang Tengah Ngawi ), fosil tengkorak manusia purba (Pithecantropus Erectus Cranium Trinil Area), fosil tulng rahang bawah macan (Felis Tigris Mandi Bula Trinil Area), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus Upper Molar Trinil Area), fosil tulang paha manusia purba (Phitecantropus Erectus Femur Trinil Area), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau Horn Trinil Area), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus Horn Trinil Area) dan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus Ivory Trinil Area).
Disamping itu masih ada beberapa fosil tengkorak : Australopithecus Afrinacus Cranium Taung Bostwana Afrika Selatan, Homo Neanderthalensis Cranium Neander Dusseldorf Jerman dan Homo Sapiens Cranium. Selain fosil-fosil tengkorak yang tersebut hal yang menarik lainnya adalah, adanya sebuah tugu tempat penemuan manusia purba. Dulu tak banyak orang tahu akan makna tugu itu, bahkan kemungkinan besar bisa rusak kalau tidak dpelihara oleh seorang sukarelawan.

Wirodihardjo atau Wiro balung alias Sapari dari Kelurahan Kawu adalah seorang sukarelawan yang menyadari bahwa tugu itu mempunyai makna yang besar dan sangat berguna bagi penelitian selanjutnya. Wajar ia berpendapat begitu, karena ia telah menyaksikan ekspedisi atau penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan setelah penggalian yang dilakukan E.Dubois dan Salenka.
Orang asing atau mahasiswa datang silih berganti untuk melakukan ekspedisi yang tentunya dengan biaya yang mahal. Oleh karena itu, sebagai putra daerah tersebut, ia merasa ikut bertanggungjawab atas kelestarian tempat itu.

Kehadiran Wirodiharjo di Trinil sangat berarti, karena beliau menjadi tempat untuk bertanya para pengunjung tentang fosil di Trinil. Walaupun tempat tersebut terkenal sebagai daerah fosil, namun kenyataan waktu itu tidak satupun fosil yang ada di Trinil. Untuk itulah ia mengumpulkan setiap fosil yang ditemukan di sungai Bengawan Solo. Selain itu Pak Wiro juga mendapat laporan dari penduduk sekitar bahwa mereka menemukan fosil. Dari hari ke hari fosil yang dikumpulkan dari tiga desa ; sebelah barat Desa Kawu, sebelah utara Desa Gemarang dan sebelah timur Desa Ngancar bertambah banyak, atas tinjauan Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Ngawi waktu itu ( Pak Mukiyo ) ia mendapat bantuan tiga buah almari untuk menyimpan fosil-fosil tersebut.
Sejak saat itulah Pak Wirodiharjo terkenal dengan sebutan Wiro Balung yang berarti Pak Wiro yang suka mengumpulkan balung-balung ( tulang ).
Dan selanjutnya pada tahun 1980/1981 Pemerintah daerah setempat mendirikan museum untuk menampung fosil-fosil tersebut yang diresmikan oleh Bapak Gubernur Jatim “Soelarso” pada tanggal 20 Nopember 1991. Namun sayang Wiro Balung sudah tiada sejak 1 April 1990 dan keahlian beliau diteruskan oleh anaknya Mas Sujono ( 37 ) yang sekarang menjad juru kunci Museum Trinil. Selain dari diorama yang ada, Mas Sujono juga banyak memberikan keterangan tambahan kepada kami.


Diantara tambahan keterangan Mas Sujono yang sangat penting adalah,”Bahwasannya Trinil merupakan daerah padang savanna pada masa lampau. Kenapa ? karena adanya manusia, banteng, gajah dan hewan-hewan yang lain yang tumbuh di satu area. Hal ini cukup menunjukkan kalau dulu daerah ini adalah savanna. Namun kemudian setelah adanya letusan Gunung Lawu yang berturut-turut hancurlah peradaban yang ada di Trinil dan sekitarnya,” kata Mas Sujono dengan mimik serius. Dengan melihat Museum Trinil suatu kearifan dapat kita tarik dari berbagai temuan para ilmuwan tentang manusia purba. Adalah suatu kenyataan bahwa dibalik keanekaragaman wujud kehidupan kita dewasa ini, sesungguhnya ada kesamaan asal-usul kita seluruhnya sebagai manusia.




Visit Ngawi . . . . . . . 

Kamis, 31 Desember 2015

Air Terjun Srambang Ngawi

Air terjun Srambang merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Ngawi yang berupa air terjun. Berlokasi di kaki gunung Lawu, Kecamatan Jogorogo, sekitar 5 km ke selatan dari pasar Jogorogo. Ketinggian air terjun ini hampir mencapai 40 m.

Objek wisata ini menampilkan suasana pegunungan yang sejuk dan dingin membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi pengunjung.

Areal jalan menuju lokasi sudah diaspal sehingga mempermudah perjalanan. Lokasi air terjun srambang berdekatan dengan pondok pesantren Condro Mowo. Dengan kendaraan sepeda motor bisa langsung menuju lokasi tanpa harus berjalan kaki, namun jika menggunakan mobil, harus berhenti kira-kira 500 meter dari objek wisata, karena jalan belum bisa dilalui kendaraan roda empat. Batas waktu kunjungan adalah sampai jam 3 sore. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya longsor di areal air terjun, terlebih di musim hujan, banyak pacet dan rawan longsor.

 Tiket dan Parkir
Tiket masuk adalah Rp 2.500 per orang. Sedangkan Uang parkir adalah Rp 1.500 per kendaraan.

Fasilitas dan Akomodasi
Beberapa fasilitas yang ada antara lain adalah area parkir untuk menampung kendaraan, warung-warung penjual makanan dan minuman.

Wisata Lain
Tak jauh dari Air Terjun Srambang ini, atau sekitar 30 menit perjalanan motor, terdapat perkebunan teh Jamus.


Visit Ngawi . . . .


Jumat, 25 Desember 2015

Benteng Van den Bosch



Benteng Van den Bosch, lebih dikenal sebagai Benteng Pendem adalah sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi.

Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Lokasinya mudah dijangkau yakni dari Kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi +/- 1 Km arah timur laut. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di sudut pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun.

Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat dari luar terpendam.

Sejarah
Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro (1825-1830).

Perlawanan melawan Belanda yang berkobar didaerah dipimpin oleh kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan di Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda.
Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah benteng yang selesai pada tahun 1845 yaitu Benteng Van Den Bosch. Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes van den Bosch.

 Makam K.H. Muhammad Nursalim




Di dalam benteng ini terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, yaitu salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng ini, konon K.H. Muhammad Nursalim adalah orang yang menyebarkan agama Islam pertama di Ngawi, dan memiliki kesaktian yang tinggi, yaitu tidak mempan ditembak.

Oleh karena itu, maka dia dikubur hidup–hidup.












Let's Visit Ngawi

 

Jumat, 27 November 2015

Kebun Teh Jamus


Ngawi adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota kabupaten ini terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora (keduanya termasuk wilayah Provinsi Jawa Tengah), dan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Madiun di timur, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun di selatan, serta Kabupaten Sragen (Jawa Tengah) di barat. Bagian utara merupakan perbukitan, bagian dari Pegunungan Kendeng. Bagian barat daya adalah kawasan pegunungan, bagian dari sistem Gunung Lawu.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Dari Madiun mengambil jalur Pabrik Gula Sudhono yang berada di dekat Stasiun Geneng, Ngawi. Hanya karena jalan yang makin kecil, insting menyuruh saya untuk bertanya kepada penduduk yang sedang berkumpul di depan sebuah warung. Mereka cukup familiar dengan Kebun Teh Jamus, hanya saja untuk menunjukkan arah yang benar mereka harus berdebat sendiri diantara mereka.
Salah satu obyek wisata Kabupaten Ngawi adalah Kebun Teh Jamus.Kebun teh ini di kelola oleh PT Candi Loka menawarkan eksotika tersendiri bagi para wisatawan. Bernuansa tropis, hijau, sunyi, damai indah dan sejuk merupakan gambaran dari suasana perkebunan teh Jamus yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah utara, atau tepatnya di Desa Girikerto Kecamatan Sine 40 Km kearah Barat daya kota Ngawi.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Lokasi ini sebenarnya merupakan perhentian saja karena sebenarnya masih terdapat lokasi akhir wisata yang lebih komplit, termasuk terdapat kolam renang dan sumber air.
Dari lokasi Pabrik Teh di perhentian pertama, silahkan naik lagi dengan menelusuri jalanan sempit, hati-hati karena disampingnya adalah jurang dan tebing. Untuk Mobil, harus berhenti salah satu apabila berpapasan.

Borobudur Hill yaitu bukit setinggi 35,4 meter yang terlihat seperti lahan teh biasa, namun jika dipandang dari kejauhan nampak sebuah bukit mirip berbentuk candi borobudur.Selain itu ada air terjun Grojogan Songo Tuk Pakel,Ada pula makam tua pendiri Kebun Teh Jamus yaitu Van Der Rappart (1826-1910) asal Belanda. Kawasan wisata di sini sengaja tidak membangun hotel karena warga dan pengelola mempunyai konsep wisata alam yang asri. Itulah keunggulannya dibanding tempat wisata lainnya,” kata Dirut PT Candi Loka Jamus, Ir Purwanto. Meski tidak tersedia hotel, menurut Purwanto wisatawan masih bisa menginap dengan menyewa rumah penduduk di sekitar kebun. Ketinggian kebun teh ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut.Bekunjung ke kebun teh Jamus, memang tidak begitu sulit.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Di Lokasi ini, terdapat tempat parkir yang cukup luas dan beberapa kios penjual makanan dan teh. Apabila ingin melihat pemandangan dari atas, silahkan naik ke bukit kecil yang diselimuti lebatnya dedaunan teh.

PT Candi Loka adalah yang memproduksi teh dan air mineral Jamus. Disamping pabrik teh terdapat pula sumber Lanang, goa Jepang, bumi perkemahan, Kolam renang anak dan Borobudur Hill.   

Borobudur Hill yaitu bukit setinggi 35,4 meter yang terlihat seperti lahan teh biasa, namun jika dipandang dari kejauhan nampak sebuah bukit mirip berbentuk candi borobudur.Selain itu ada air terjun Grojogan Songo Tuk Pakel,Ada pula makam tua pendiri Kebun Teh Jamus yaitu Van Der Rappart (1826-1910) asal Belanda. Kawasan wisata di sini sengaja tidak membangun hotel karena warga dan pengelola mempunyai konsep wisata alam yang asri. Itulah keunggulannya dibanding tempat wisata lainnya,” kata Dirut PT Candi Loka Jamus, Ir Purwanto. Meski tidak tersedia hotel, menurut Purwanto wisatawan masih bisa menginap dengan menyewa rumah penduduk di sekitar kebun. Ketinggian kebun teh ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut.Bekunjung ke kebun teh Jamus, memang tidak begitu sulit. 
 
Lokasi ini bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, pengunjung akan tiba dikawasan lereng gunung di Kecamatan Ngrambe. Ketika cuaca cerah, puncak Gunung Lawu terasa kelihatan di depan mata. Namun, pada musim penghujan, jangan berharap bisa melihat pemandangan seperti itu karena selalu diliputi kabut tebal. Setelah tiba di Ngrambe, lanjutkan perjalanan ke Desa Giri Kerto, sebuah desa wilayah Kecamatan Sine yang berbatasan dengan Kecamatan Ngrambe. 


Perjalanan dari kota Ngrambe ke kebun teh Jamus ditempuh kira-kira tujuh kilometer. Dari kota kecil itu, hanya sesekali ada angkutan perdesaan. Namun pengunjung bisa menggunakan ojek dengan tarif Rp10 ribu. Ketika pengunjung sampai di desa Giri Kerto perlu berhati-hati karena kondisi jalan mulai terjal dan berkelok-kelok. Namun, di balik tantangan itu, pengunjung akan mendapat pemandangan yang masih alami dan indah.



Borobudur Hill yaitu bukit setinggi 35,4 meter yang terlihat seperti lahan teh biasa, namun jika dipandang dari kejauhan nampak sebuah bukit mirip berbentuk candi borobudur.Selain itu ada air terjun Grojogan Songo Tuk Pakel,Ada pula makam tua pendiri Kebun Teh Jamus yaitu Van Der Rappart (1826-1910) asal Belanda. Kawasan wisata di sini sengaja tidak membangun hotel karena warga dan pengelola mempunyai konsep wisata alam yang asri. Itulah keunggulannya dibanding tempat wisata lainnya,” kata Dirut PT Candi Loka Jamus, Ir Purwanto. Meski tidak tersedia hotel, menurut Purwanto wisatawan masih bisa menginap dengan menyewa rumah penduduk di sekitar kebun. Ketinggian kebun teh ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut.Bekunjung ke kebun teh Jamus, memang tidak begitu sulit. Lokasi ini bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, pengunjung akan tiba dikawasan lereng gunung di Kecamatan Ngrambe. Ketika cuaca cerah, puncak Gunung Lawu terasa kelihatan di depan mata. Namun, pada musim penghujan, jangan berharap bisa melihat pemandangan seperti itu karena selalu diliputi kabut tebal. Setelah tiba di Ngrambe, lanjutkan perjalanan ke Desa Giri Kerto, sebuah desa wilayah Kecamatan Sine yang berbatasan dengan Kecamatan Ngrambe.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Borobudur Hill yaitu bukit setinggi 35,4 meter yang terlihat seperti lahan teh biasa, namun jika dipandang dari kejauhan nampak sebuah bukit mirip berbentuk candi borobudur.Selain itu ada air terjun Grojogan Songo Tuk Pakel,Ada pula makam tua pendiri Kebun Teh Jamus yaitu Van Der Rappart (1826-1910) asal Belanda. Kawasan wisata di sini sengaja tidak membangun hotel karena warga dan pengelola mempunyai konsep wisata alam yang asri. Itulah keunggulannya dibanding tempat wisata lainnya,” kata Dirut PT Candi Loka Jamus, Ir Purwanto. Meski tidak tersedia hotel, menurut Purwanto wisatawan masih bisa menginap dengan menyewa rumah penduduk di sekitar kebun. Ketinggian kebun teh ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut.Bekunjung ke kebun teh Jamus, memang tidak begitu sulit.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
PT Candi Loka adalah yang memproduksi teh dan air mineral Jamus. Disamping pabrik teh terdapat pula sumber Lanang, goa Jepang, bumi perkemahan, Kolam renang anak dan Borobudur Hill.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu


Borobudur Hill yaitu bukit setinggi 35,4 meter yang terlihat seperti lahan teh biasa, namun jika dipandang dari kejauhan nampak sebuah bukit mirip berbentuk candi borobudur.Selain itu ada air terjun Grojogan Songo Tuk Pakel,Ada pula makam tua pendiri Kebun Teh Jamus yaitu Van Der Rappart (1826-1910) asal Belanda. Kawasan wisata di sini sengaja tidak membangun hotel karena warga dan pengelola mempunyai konsep wisata alam yang asri. Itulah keunggulannya dibanding tempat wisata lainnya,” kata Dirut PT Candi Loka Jamus, Ir Purwanto. Meski tidak tersedia hotel, menurut Purwanto wisatawan masih bisa menginap dengan menyewa rumah penduduk di sekitar kebun. Ketinggian kebun teh ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut.Bekunjung ke kebun teh Jamus, memang tidak begitu sulit.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
PT Candi Loka adalah yang memproduksi teh dan air mineral Jamus. Disamping pabrik teh terdapat pula sumber Lanang, goa Jepang, bumi perkemahan, Kolam renang anak dan Borobudur Hill.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Borobudur Hill yaitu bukit setinggi 35,4 meter yang terlihat seperti lahan teh biasa, namun jika dipandang dari kejauhan nampak sebuah bukit mirip berbentuk candi borobudur.Selain itu ada air terjun Grojogan Songo Tuk Pakel,Ada pula makam tua pendiri Kebun Teh Jamus yaitu Van Der Rappart (1826-1910) asal Belanda. Kawasan wisata di sini sengaja tidak membangun hotel karena warga dan pengelola mempunyai konsep wisata alam yang asri. Itulah keunggulannya dibanding tempat wisata lainnya,” kata Dirut PT Candi Loka Jamus, Ir Purwanto. Meski tidak tersedia hotel, menurut Purwanto wisatawan masih bisa menginap dengan menyewa rumah penduduk di sekitar kebun. Ketinggian kebun teh ini sekitar 800 meter di atas permukaan laut.Bekunjung ke kebun teh Jamus, memang tidak begitu sulit.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
PT Candi Loka adalah yang memproduksi teh dan air mineral Jamus. Disamping pabrik teh terdapat pula sumber Lanang, goa Jepang, bumi perkemahan, Kolam renang anak dan Borobudur Hill.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
PT Candi Loka adalah yang memproduksi teh dan air mineral Jamus. Disamping pabrik teh terdapat pula sumber Lanang, goa Jepang, bumi perkemahan, Kolam renang anak dan Borobudur Hill.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu



 Ayo Kunjungi Ngawi . . . . . .

Pengantin Waterfall Ngrambe

Pengantin Waterfall Ngrambe is name, lying hidden behind Jamus Tea Plantation who became prime tourist spot Ngawi. The freshness of the waterfall there is still a lot of tourists exposed. In addition, if you want to touch it took 3 hours from the heart of Ngawi.

Ngawi of Tourism visited the site there is a 12 meter high waterfall flow rushing to the ground. From there the pengantin Waterfall attached to the present. Earlier this attraction known as Jumog waterfall.

Usually the waterfall tourist attraction not far from mythical stories and legends, as well as this waterfall. It is said that lovers who come there together, their relationship even more lasting till up the aisle. Now, if a husband and wife who touches this waterfall, their relationship can be more durable.

Travelers are required to pay a ticket Rp 2,500 per person before witnessing the swift Pengantin Waterfall Ngrambe not less attractive to other waterfalls. Cheap is not it? Splashing water rushing down the relentless reconcile themselves, especially when fatigue strikes.

 You first pass uphill dirt road before meeting the 'bride' was. As the rainy season is certainly a tourist area full of mud muddy and uncomfortable visit. We recommend that you come during the dry season arrives so enjoying the waterfall from all directions.

You first pass uphill dirt road before seeing 'the Well, besides the freshness of Pengantin Waterfall Ngrambe, tourists can stop by the green area Jamus Tea Plantation and Japanese Cave, a tourist icon Ngawi. Come to the Hamlet Besek, Hargomulyo Village, District Ngrambe, Ngawi if you want to enjoy the fresh atmosphere in the style of Bride's Waterfall Ngrambe.

 
Let's Visit Ngawi